Senin, 30 Januari 2017

Postingan Awal Tahun

26


Inhale Exhale,
Fuiiih.. udah 2017. 
Udah mulai gak salah-salah lagi nulis tanggal di ujung atas kertas kan? yakalee udah sebulan.
Seperti biasah gue kalo ngucapin apa-apa selalu telat, termasuk tahun baru. 

Selamat Tahun Baru, jangan lupa beli kalender baru. :)

Udah telat, ngucapinnya gitu doang lagi.
Tulisan ini dibuat sejak awal tahun, sengaja diulur publishnya, biar kaya perasaan aku yang lagi ditarik ulur. Sekian

Gak deng. 
Sengaja diulur publishnya nunggu moment yang ciamik terlewati, biar sekalian. 
Biar gak kaya postingan Ta'aruf yang ditulis dari Oktober tapi gak kelar-kelar anjeeer, udah setahun!!
Padahal mah apa, gak sempet. Diri sendiri aja gak keurus, apalagi blog.
Memang kadang realita semenyedihkan ini.
4 bulan jadi Mahasiswa dan 5 kali jadi panitia acara. Itu berarti ANJER TERNYATA GUE MARUK JUGA. Ada kegiatan apa buru-buru ikut, giliran dilakuin ngeluh-ngeluh di socmed.
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 2). 

Tahun 2016 kemaren banyak banget hal-hal baru yang seharusnya bisa ditulis satu persatu dan menjadikan list postingan di tahun 2016 ini lebih penuh. Tapi apalah daya tak ada upaya. Di penghujung 2016 gue memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu Calon Anggota baru ( CAANG) pada sebuah Lembaga Semi Otonom mahasiwa di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta yang bergerak dibidang media, yaitu Radio Komunikasi dan Dakwah atau biasa dikenal RDK FM. 

Disini pada akhirnya gue dipertemukan dengan keluarga baru. Berkat pahit asamnya proses seleksi dan pendidikan yang kami lalui ber-yangawalnyaduapuluhsembilan ini. Doktrin "Kita ini satu tubuh" yang berkali-kali digemakan, sukses ngebikin gue menitihkan air mata saat kehilangan salah satu diantara mereka. 

Remeh banget padahal Ya Allah. Temen-temen SMA gue pasti bakal heran, gue yang paling jarang nangis ini bisa-bisanya menitihkan air mata demi teman baru yang kenal aja baru sebulan ini. Tapi seandainya mereka tahu kaya apa si temen-temen yang gue tangisin ini, mereka gak akan heran air mata gue yang mahal ini kenapa bisa jatuh.

Galak-galak gini Adibah orangnya setia kawan banget soalnya. Teman itu nomer 4, Setelah nomor satu Bismillah, yang kedua Allah, dan yang ketiga Keluarga. Kami ber-26 yang pada akhirnya melewati berbagai jenis magang dan melalui banyak rintangan dan siap untuk dilantik menjadi Anggota baru yang sesungguhnya. Sampai akhirnya tanggal 15 Januari silam setelah melalui manis pahitnya bangun-robohin tenda, mentas dari kubangan pindah ke empang, lelehan air mata dan renyahnya gelak tawa, kami ber-26 finally dilantik jadi Anggota Muda (ANGMUD). Meski belum resmi karena Musyawarah Anggota baru akan dilaksanakan pertengahan Februari nanti, kebahagiaan kami pun sudah tak terbendung, akhirnya apa yang kami perjuangkan bersama selama tiga bulan usai sudah. Maaf, belum usai maksud gue, baru saja dimulai.

Dramatis abis,

Sampai postingan ini di publish, kami ber-26 sedang gencar-gencarnya ngurusin BANSOS ALIANSI ( Alirkan Kasih Lewat Frekuensi ). Acara ini yang bikin gue jadi sering bolak-balik CFD, ngamen sana-sini, dagang ini itu, demi meraup pundi-pundi rupiah yang mampu melancarkan acara BANSOS ALIANSI tersebut diatas. Capek, jelas. Nyadan yang menghabiskan banyak waktu dan usaha, sampai-sampai moment tahun baru kami tersita.

Tidak seperti remaja pada umumnya, kami menghabiskan 2016 dengan menjual roti yang di impor dari Bandung di sekitaran bundaran HI. Suasana HI yang ramai bu-ibu sosialita dan keluarga cemara serta bapak-bapak berseragam dari polisi, satpam, satpol PP jadi medan jualan yang potensial bagi kami. Dengan sedikit memaksa kami menawarkan dagangan kepada para ibu-ibu sosialita, keluarga cemara dan bapak berseragam yang telah disebutkan di atas. Bukan suatu hal yang sia-sia, berangkat ke HI sejak pagi, muter-muter gak jelas, numpang makan ke rumah salah satu teman,sampai pada akhirnya kami berhasil menjual 75 potong roti di detik-detik terakhir 2016. Rupiah yang kami dapatkan memang tidak seberapa, tapi ada nilai yang kami dapatkan tanpa sadar dari malam itu selain rupiah dan rasa lelah.

Nilai itu adalah,







Gak ada ternyata.
CAPEK DOANG ANJU!!

Asli capek, pulang ke rumah masing-masing dengan busway, angkot, dan kereta terakhir membuat kami misuh-misuh sampai pagi. Tapi seneng sih. Akhirnya nemu temen yang mau diajak susah bareng. Tinggal nyari yang mau diajak berumah tangga bareng.

Eh, gimana?







Mengakhiri 2016 dengan mencari dana, kamipun memulai awal 2017 dengan hal yang sama, mulai dari jual suara di lampu merah, jual aqua di CFD, jual gelang dan lain sebagainya. Malam-malam dingin yang kita habiskan bersama ditemani nasi goreng khas Brebes, Kopi abang-abang, segelas plastik extra joss, diselingi lagu-lagu lama, guyonan receh, terciptanya joke - joke internal, pergunjingan yang menyenangkan akan menjadi kenangan-kenangan kecil yang tidak mudah kami lupakan.

Basic-basic anak radio tak terbendung membuat setiap pertemuan kami tidak luput dari obrolan-obrolan panjang. Alhamdulillah, bersama mereka bakat ghibah gue makin terasah. :) Ini kalo meetup lagi, temen-temen blogger pasti langsung bisa menilai, seberapa jauh bakat ghibah Adibah menjadi berkembang pesat. Maapin
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 3)

Disini gue ketemu keluarga baru.
Walaupun kalimat di atas terdengar agak bulsyid, tapi jujur gue sayang. Sayang-sayang malez sih sebenernya, karna seberapa menyenangkan mereka tetep banyak nyebelinnya. Suatu saat gue ceritain tabiat, perangai, personalitas dan tindak tanduk masing-masing dari mereka. Agar sahabat netizen tahu, betapa beruntungnya Adibah dipertemukan dengan mereka. :)

Sejujurnya, banyak yang mau gue ceritain. Tapi karna nulisnya pedot-pedotan jadi lupa pan mau nulis apa aja.  Yawdah la yaa, ntar kalo inget agar supaya dijadikan postingan baru biar menuh-menuhin list. Ehe

Sesungguhnya, di bawah ini hanya segelintir dari dokumentasi kebersamaan kami. Masih banyak foto-foto aib yang tidak baik untuk konsumsi publik.