Selasa, 21 November 2017

Sampai Jumpa Kawanku

6



Semua yang pernah datang akan pergi, semua yang pernah datang akan meninggalkan ceritanya masing-masing, baik manis maupun pahit, lambat laun setiap orang yang kita pernah temui akan menjadi sekedar cerita.

" Mba bah aku kurusan gak sih?"tanyanya sembari melebar-lebarkan kemeja putihnya.

" Hmmm lumayan, kenapa? banyak tugas?" jawab gua fokus mencari sepasang sepatu abu-abu.

" Iya semester ini banyak tugas," jawabnya singkat.

-

" Mba bah, kapan balik lagi ke Jakarta? nanti liburan semester depan nek ketemu lagi kita karaokean yaa," ajaknya.

" Harus," jawab gua singkat seperti biasa.

Udah gak ada lagi yang akan mencerca gua  dengan pertanyaan seputar berat badan, bentuk alis, dan pakaian apa yang harus dipakai setiap mau pergi.

Minggu 12 November kemarin,  saat hujan masih turun di luar sana, kipas di kosan gua masih belum rusak bekerja sesuai dengan fungsinya. Gua dengan atribut hampir siap nonton konser Sheila on 7 tergugu memeluk mukenah yang baru saja dilipat. Air dari langit dan pelupuk mata gua jatuh beriringan, mereka jatuh perlahan larut bersama kisah-kisah yang sempat kami habiskan bersama.

Sore itu, gua hampir gak jadi nonton mas Duta manggung di clossing acara Milad fakultas, saat temen deket gua semasa SMA dikabarkan pamit dari dunia yang fana ini.  Belasan menit berlalu, di grup angkatan masih ramai menganggap berita duka ini masih simpang siur, alias 'please Ya Allah semoga hoax', tapi takdir tak bisa diputar, kipas gua pun begitu, sumpah ditinggal tidur eh paginya gak mau muter.

Ternyata kabar duka itu benar adanya, jasad Dinna Oktaviani (20 thn) mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya semester 5 ditemukan kaku di bawah reruntuhan rumah kontrakannya yang baru. Asli gua gatau harus ngapain lagi saat dengar kabar ini ternyata bukan hoax, informasi teraktual satu persatu masuk memenuhi ruang chat grup. Terakhir, yang bikin gua makin histeris saat seseorang mengirimkan foto jasad Dinna usai fisum di rumah sakit.

Gua telfon satu persatu temen deket gua semasa SMA,



Tidak ada percakapan.

yang tersisa hanya isak panjang kehilangan. 



Societhree berduka,
Detik itu juga langsung berseliweran wajah-wajah temen sekelas gua dulu. Muka-muka lelah latihan pagelaran, muka-muka panik karena ketauan bolos ke kantin, wajah-wajah tanpa dosa padahal masuk kelas telat. Intro single dari Endank Soekamti #Angka8 entah dari mana masuk ke sela-sela kepala gua, semuanya tumpang tindih, gelak tawa, teriakan anak-anak kelas, wajah-wajah menyenangkan mereka, perlahan mereka luruh bersama air mata saat gua sadar semuanya tidak akan pernah terjadi lagi tanpa Dinna.

Suatu saat entah kapan, saat kita harus reuni atau sekedar bertukar cerita lewat secangkir kopi, tidak ada Dinna disana. Bukan karena dia terhalang jadwal UTS atau tertinggal kereta dari Malang, tapi karna dia benar-benar sudah tidak ada, tidak akan pernah kembali.

Malam itu, diluar hujan tinggal rintik tapi tidak dengan hatiku. asek.  Perasaan gua masih gak enak, tapi makin ga enak saat gua sadar dari sebelum maghrib sampe abis Isya kerjaannya cuma nangis di kosan. Gua yang emang dasarnya gak suka sendirian ditambah lagi sedih, memutuskan untuk tetap pergi nonton mas Duta, gua berharap nanti hujan turun lagi, dan gua bisa puas menangis di tengah kerumunan.

Ini pokoknya antara gua mau ngilangin rasa sedih sama ga mau rugi emang beda tipis.

Dengan mata sembap gua mengunci pintu kamar, menukar sepatu yang sudah gua siapkan dengan sendal, karna becek lah anjir pasti lapangan. Lalu berjalan gontai sambil sesekali mengusap air mata.

Meski akhirnya mas Duta sukses manggung tanpa diguyur hujan, dan gua gagal menangis di tengah kerumunan karna salah pilih temen nonton konser, gua tetap berhasil menutup hari dengan lagi-lagi menangis, bisa dibilang hari itu adalah hari Adibah paling banyak nangis 2017.

Dinna sudah hadir dicircle pertemanan gua sejak delapan tahun yang lalu, kita memang satu SMP meski baru sekelas saat masuk SMA. Sebagai gadis yang ceria dan selalu bisa bermain sama siapa aja, bukan hal sulit buat gua mengenal Dinna.
Perempuan yang selalu minta saran kegua mulai dari masalah keluarga sampai hal remeh seperti memilih warna cat rambut yang tepat. Saking banyaknya, rasanya ga mungkin kuat gua ceritain semua moment dalam hidup gua yang ada Dinna nya, dia salah satu spesies temen yang paling kuat nemenin gua nonton film, siap meladeni pertanyaan gua sepanjang film, dan dengan suka rela ngasih spoiler. Teman yang paling munafik saat diet, pagi doang diet makan buah, tapi akhirnya kalah juga sama bau indomi. Orang yang paling semangat dan setuju saat gua punya cita-cita bikin tatto, meskipun enggak keturutan dan masih pengen sampe detik ini. Jadi orang yang paling mau gua repotin, dan selalu jadi paling kecil kalo main sama yang lain.


Sampai detik ini, akan ada bagian diri gua yang sesak tiap kali gua denger nama Dinna. Bukannya gua belum ikhlas, sumpah gua sadar semua yang pernah hadir dalam hidup kita, cepat atau lambat akan pergi dan hanya menginggalkan cerita. Gua hanya masih terlalu munafik memaknai kepergian.



Gua takut kalo satu persatu dari kami mulai pergi,
Sampai tiba giliran gua yang pergi.




Selamat jalan Din,  sampai jumpa lagi.




Adibah dan Dinna mencoba aplikasi B612 pada masanya.



Rabu, 25 Oktober 2017

Sebuah Janji dan Bulan-bulan Berat Terlewati

30

Ini kalo gua gak ditantangin gak bakal nulis nih. Aseli
Berengseknya yang nantangin malah ngepost tulisan lain diluar perjanjian. Bgst!!

Huh, setelah 19487 purnama terlewati, akhirnya puter balik juga. 
Bulan-bulan lalu adalah bulan yang berat buat gua, 
kalo ada orang nge-joke 
" Sibuq amat nih, keya panitia pensi!" 

Gua tabok sumpah. Panitia pensi bukan becandaan ya please banget ini mah. 
Sibuknya bukan lagi gak sempet sekedar nongkrong bareng temen-temen, tapi udah menyentuh aspek lahir dan bathin kehidupan. Asli dah 

Tentu bukan hal asing bagi gua jadi panitia suatu acara, bagaikan rice cooker dan centongnya. Hidup gua dan segala kepanitiaan memang sengaja diciptakan berdampingan, sungguh Allah Maha baik. Putri yang senantiasa menghabiskan waktunya di luar rumah ini seperti sudah ditakdirkan berjodoh dengan agenda rapat dan hal berbau kepanitiaan lainnya sejak dulu. Tapi izinikan gua jujur, acara yang berlangsung pertengahan Oktober silam jadi acara yang paling menguras tenaga, waktu, materi, kesabaran hingga air mata. 

Bulan demi bulan terlewati, pulang malam, makan telat, pilek 239824623 kali, dan ketiduran di kelas sudah jadi rutinitas. Ingin rasanya memasukkannya dalam nominasi 'Ujian terberat sepanjang hidup Adibah' kalo ada, kalau boleh menyerah ingin rasanya, kalau boleh mengeluh sudah ribuan kali rasanya. Dan gua pun haqqul yaqin, gak cuma gua yang capek, gak cuma gua berkali-kali mengeluh dan hampir menyerah. 

Buat yang udah sering jadi panitia pasti paham, gak cuma korban fisik, jadi panitia juga berkali-kali mengundang pergulatan bathin. 


Jadi 13 Oktober kemaren, RDK Fm Radio kampus yang hampir setahun sudah gua geluti menyelenggarakan serangkaian acara Off air, atau kami akrab menyebutnya ROFFAIR sebagai hajat wajib tahunan. Mengundang 2 group band indie dengan perbedaan genre yang ekstrem tentu bukan hal mudah. Kalau boleh gua bilang, sejak awal jalan kami tidak ada mudah-mudahnya, yang mudah hanya do'a kami, 'mudah-mudahan kami kuat' sampai akhirnya 13 Oktober tiba. 

Sebagai remaja putri yang kuat dan sewaktu-waktu suka judes gua ditempatkan di pintu masuk, bagian body check perempuan. Iyaak bener! yang kerjaanya bawa senter sama minta "maaf bisa dilihat tas nya sebentar kaka? blablabla" sampai fasih ke ratusan penonton yang datang, meneliti apakah dalam sling bag-sling bag perempuan ini ada rokok, obat-obatan terlarang, dan unsur-unsur SARA yang kerap menyebababkan perpecahan kedaulatan bangsa. 

Sore itu kami mendatangkan Float dan Kelompok Penerbang Roket ke Hall Student Center UIN Jakarta, hamdalah kerjaan gua gak terlalu banyak, karna sebagian besar yang datang adalah kaum adam. Kayanya 2 group band ini pasarnya emang abang-abang, terutama abang-abang gondrong nan menggemaskan.

WOY INI BISA GAK SEH TIAP HARI UIN NGUNDANG KPR BIAR GUA PUAS LIAT ABANG-ABANG GONDRONG LUCU EVERY SINGLE DAY!!

Ini salah satu hikmah dari ROFFAIR yang bisa gua ambil, 
Sesungguhnya abang-abang gondrong pake kaos, jeans belel, nonton konser musik itu bikin pusing, asal tolong banget gausah ditambah adegan dia nyisir rambut pake jari terus ngucir rambutnya asal deh. 

Pingsan nanti saya.

Tapi sumpah, wahai umat pemuja abang-abang gondrong lucu, datanglah ke konser KPR dimanapun kalian berada, agar

Tiap kali penonton perempuan yang datang terlihat mulai jarang, sesekali gua nengok ke bagian body check cowok, ngeliatin satu dua abang-abang gondrong yang rela matiin rokoknya saat ditegur, ngibasin rambutnya, terus nengok ke gua,

bukan deh, 
nengok ke ceweknya yang udah berdiri di depan gua beberapa detik yang lalu tapi gua gak sadar.

Gapapa udah punya cewek juga tetep lucu kok. Gemes!!

Saat malam makin larut dan pintu masuk mulai ditutup, sesekali gua masuk ke kerumunan penonton, menegur santai penonton yang melanggar ketentuan. Meski beberapa kali takut dan cenderung panik, gua menikmati atmosfer malam itu. Malam yang berbulan-bulan kami masukkan dalam agenda rapat, teriakan penonton, lingkaran-lingkaran syaitan alias moshing yang diciptakan penonton, kilatan lighting dari panggung, dentuman keras dari sound gantung yang menjalar langsung ke jantung, takut tiba-tiba jatuh cinta gua kalo gini.

Gua keluar dari kerumunan, naik ke tribun terus turun lagi. Takut soalnya di tribun papasan sama orang kobam, pas turun ternyata papasan juga sama orang kobam kasian, dia sendirian gelayutan rak sepatu yang kami set menjadi barikade sementara. Tadinya gua takut, mau kabur aja tapi pas gua liat lagi sorot matanya gua gak tega. Gua samperin abang-abang yang kaos merah maroon polosnya udah basah kuyup itu, melihat makin kuat dia gelayutan rak sepatu setinggi dua meter dengan kondisi setengah sadar, gua pegang pundaknya biar gak jatoh sama rak sepatunya. Kan kasian, sudah kobam tertimpa rak sepatu pula. 

Ngeri dia ketiban rak sepatu beneran, gua beraniin ngajak ngomong sambil masih nahan pundaknya, " Duduk aja bang, ntar jatoh semua ini rak sepatu saya." 

Si abang-abangnya gak bales ngomong apa-apa, esmosi gua ngomong di read doang terus gua dorong aja rak sepatunya sampe dia ketimpa. Mampus!

Enggak deh, dia emang gak bales saran gua buat duduk dengan omongan, dia nengok dan membalas dengan tatapan sayu serta muka pusing khas orang setengah sadar dan..



Ganteng!

brgsk!! bdjgn!!
wey kata-kata kasar apa yang belom gua pake nih?

Sialan, kan gua jadi makin takut beneran, takut sayang. 
Tapi sumpah malem itu gua boro-boro kepikiran takut sayang, gua pure tambah takut beneran tapi kesian, abang-abangnya juga bukannya duduk malah makin ngegelendot dan bikin tangan gua yang berusaha menahan badannya bertugas makin keras. 

" Lah jangan jatoh dulu bang, mau minum air putih apa?" kata gua yang udah kehabisan ide harus gimana lagi ini ngatasin orang setengah sadar. 

Tiba-tiba dia bangkit, dan mengangkat tangannya pertanda menolak tawaran air putih gua. Kayanya sih. Detik berikutnya dia menunjuk ke arah pintu keluar, dan gua balas dengan anggukan, masih dengan muka mengernyit panik campur takut. Kita liat-liatan beberapa detik sampai akhirnya si abang kaos merah maroon balik badan jalan sempoyongan menuju pintu keluar.

" Awas jangan jatoh," bisik gua pelan, masih tetep panik dan takut sedikit. Pemuda dengan sorot mata lelah berjalan sempoyongan sampai pintu keluar. Kayanya. Soalnya gua langsung balik badan meper ke tembok tangan gua yang basah dan membaur ditengah kerumunan. Takut badak!

Tapi ganteng dah, sampai detik ini gua masih inget muka dan sorot mata lelahnya. Semoga gua gak ketemu dia lagi dilain waktu. 

Takut

Ya begitulah, sedikit moment closing ROFFAIR 2017 yang paling gua inget, masih banyak lagi sebenernya tapi rahasia. Hamdalah 13 Oktober akhirnya terlewati dan akan segera disusul 13 Oktober- 13 Oktober lainnya. Gua juga sedang belajar  menjadi mahasiswa yang baik lagi di kelas, berusaha nyimak temen yang lagi presentasi, mencoba bertanya dan kembali mengingat ada matkul apa dan siapa dosennya hari demi hari. 

Sampe detik ini pusingnya masih berasa, bebannya terasa masih melekat, tapi gua belajar banyak. Gua lebih memaknai proses panjangnya, lika-likunya, suka dukanya, biasanya disaat-saat susah dan penuh perjuangan gini kita kan lebih mudah mengenali teman-teman kita. Meskipun selalu jadi bahan utama gua ngeluh dan nnagis sendiri, berkali-kali menyalahkan diri dan menuduh hidup tidak adil, gua bersyukur telah melewati 13 Oktober bersama-sama. :)

Hidup ini emang gak pernah mudah, hidup emang selamanya akan terasa tidak adil, tapi kita gak akan pernah tahu mana yang berat, mana yang tidak adil, mana yang melelahkan kalo kita gak pernah berusaha melewatinya. Masalah berhasil atau tidak? itu belakangan.

Mana kita tahu di depan ada badai bila belum sempat melewatinya?





Kamis, 24 Agustus 2017

Upaya mencintai Jakarta dengan damai

37




Siapa yang gak suka jalan-jalan?
Semua orang suka jalan, walaupun ujung-ujungnya gak jadian juga.
Yang penting mah jalan aja dulu.

Saking seringnya cuma diajak-jalan-zone nin doang, yaudah gua lebih prefer jalan sendiri aja sekarang.
Enak,
Gak ada yang nyakitin,
Gak makan janji-janji pulsa, eh palsu

Pergi ke suatu tempat sendirian sebenernya bukan hal baru buat gua, selain karna emang gak punya temen, lelah dengan segala wacana bullshit menjadi alasan gua milih jalan sendirian. Istilah kerennya Me Time. Mencari teman perjalanan bukanlah hal yang mudah, buat gua yang extra disiplin dan gamau ribet, ga akan tuh mau pergi jauh dalam jangka waktu yang panjang sama orang-orang rempong yang kalo mau pergi sehari bawaannya udah kaya ramayana cuci gudang.


Setelah lama tenggelam, blukblakblukblubukblakbluk


Aduh tenggelam beneran lagi, bentar.


Setelah lama tenggelam dalam rutinitas sebagai mahasiswa ajaib, yang sibuk bikin makalah, masalah dan aneka macam rapat. Beberapa minggu lalu, gua kembali menemukan kebahagiaan itu. Berawal dari rencana mulia nemenin temen gua nyelesein masalah kantornya yang ada di daerah Jakarta Barat. Ba'da maghrib kita jalan, gua naik busway dari UIN dia naik ojek online dari rumahnya.

Bajingan memang, gatau diuntung. Udah ditemenin jauh-jauh, gamau ngalah buat susah payah berangkat bareng. Combo bajingan.

Untung gua lagi gabut level 2047403619.


Temen gua dengan ojek online, cukup 15 menit dari rumah ke kantor, akhirnya gua berangkat lebih awal  minimal biar gak bikin dia terlalu lama nunggu. Sudah menjadi passion dan tabiat yang diketahui khalayak umum, bukan Adibah kalo pergi gak pake nyasar, bukan Adibah kalo pergi biasa-biasa aja. Minimal harus ada peristiwa semacam tragedi 98' untuk mengiringi perjalanan.

Sebelum jalan, setelah temen gua nentuin buat janjian di halte terdekat yaitu halte permata hijau RS Medika, gua langsung browsing, busway dan halte apa saja yang harus gua perhatikan agar selamat sampai tujuan. Sudah paham betul, harus berhenti dan menaiki busway apa saja, gua memulai perjalanan dengan menunggu busway Ciputat-Tosari, gua tau tuh harus berhenti di Pondok Pinang terus lanjut naik yang ke Harmoni, anehnya pas udah di Pondok Pinang gua mendadak lupa ingatan. 

Yaudah diem aja gitu liat orang yang silih bergantian berebut tempat di dalam busway, ini pasti gua dihipnotis nih, sama kenek busway nya. PARAH!!

Gua baru sadar salah jalan, salah naik busway, salah mencintaimu,  saat busway transit di halte Bundaran Senayan. Akhirnya gua minta temen gua untuk sedikit sabar menunggu di halte Permata Hijau RS Medika, gua harus sampe Harmoni dulu, baru ganti busway ke arah tempat kita janjian. Jam sudah menunjukan pukul 19.22 Waktu Indonesia Bagianadibahbodohbangetsiastaghfirullah, disini gua udah pesimis banget, buset mau balik jam berapa kalo mau nemenin ngelarin urusan temen gua di kantornya, belom lagi gua aja sedang berdesak-desakkan diantara peluh pekerja ibu kota yang baru pulang, dan masih sekitar 297560 halte lagi yang harus gua lewati. 


Lima belas menit kemudian, gua minta temen gua langsung ke kantornya aja, kelarin urusan kalo udah balik aja ke rumah. Dari pada nungguin gua yang masih sangat amat jauh, sia-sia. Karna merasa lega gak bikin orang lain nunggu, gua melanjutkan perjalanan jauh lebih santai.

Tiap lewat 3 halte gua turun, ikut ngantri diantara lautan manusia menunggu bus selanjutnya yang sama seperti gua naiki sebelumnya. Ngajak ngomong ibu-ibu yang abis video call-an sama anaknya  yang nungguin di rumah, lari-larian sama anak kecil yang lagi nunggu bus sama orangtuanya, ngajak ngobrol bapak-bapak tua yang masih aja sanggup berangkat kerja dengan kendaraan umum, pasang muka lelah seolah baru balik dari kantor saat tiba di halte Harmoni yang busetdahpenuhbanget dengan muka-muka lelah. Ikut-ikutan ngomel saat ada orang yang main dorong aja waktu mau masuk busway, abis itu ketawa-ketawa sendiri merasa bodoh melakukan hal tersebut. 

Gua bener-bener gak ada tujuan, random berhenti dari satu halte ke halte yang lain, ngajak ngobrol orang asing yang gua temuin. Ini salah satu alasan gua masih suka naik transportasi umum di Jakarta yang gila ini. Gua bisa ketemu banyak orang, melihat aktifitas-aktifitas asing yang gak bisa ditemuin di kota lain. Gak dikira tukang hipnotis atau pemegang ilmu gendam aja gua syukur, yaa takutnya sikap sok asyik gua malah dicurigai orang lain.

Menikmati kerlip lampu dan dinginnya Jakarta ternyata menyenangkan, gak cuma bisa ngilangin gabut, tapi bising klakson, mesin berat dan canda para pekerja proyek, ternayata bisa ngilangin kepenatan, dan kerinduan. Elah~

Tapi beneran deh, sekali-kali mungkin lu musti coba, melihat Jakarta dari sisi lain.

Mencintai Jakarta dengan cara damai.

Walaupun gua tetep aja empeut lihat macetnya lebak bulus jam 11 siang, Yawlaah mau pindah ke Uzbekistan aja. Tapi gua akan sedikit demi sedikit belajar mencintainya, meski sulit, meski dia cinta yang lain.

Di agenda jalan-jalan malam, gua bisa lihat bahagianya sepasang kekasih yang dipisahkan hari dan kesibukan, janjian di halte Lebak Bulus naik busway berduaan sampe rumah. Gak butuh tempat duduk, mereka hanya butuh lengan satu sama lain untuk mengakhiri perjalanan.

Atau bapak-bapak yang menggendong (sepertinya) anak balitanya yang telah lelap dipundak kokoh, tempat ternyaman bagi isi kepala penuh imajinasi yang lelah, sambil sesekali si bapak menyanyikan senandung penghantar tidur perlahan.

YHAELAH LUCU BANGET SIH.


Sebenernya ada berbagai sisi Jakarta yang kalo lo lihat bikin emosi, tapi sesungguhnya jadi sisi paling indah di dunia. Berkali-kali gua menekan lebih dalam headset menaikan volumenya sampai maksimal, berpindah halte lewat jembatan penyebrangan. Berhenti sejenak, menikmati kemacetan di bawah sana yang tak berhenti menikam. Beuh berasa model video klip gua. Aseli.

Sebagai anak rantau dari Pekalongan, kota yang arif, damai, serta berbudaya, gak ada tuh macet-macet model Jakarta, apalagi busway-busway yang sesak saat jam berangkat atau pulang kantor. Jakarta memang istimewa, Jogjakarta minder nih kalo ikut baca.

Nyaris pukul sebelas malam, gua baru sampe lagi di kosan, pas banget turun dari busway gua ngeliat abang-abang nasgor sibuk mengaduk isi penggorengannya, mau gak mau gua jadi lapar dan memesan satu porsi nasi goreng. Pantes laper, gua baru inget nasi goreng ini bakal jadi nasi pertama yang gua santap hari ini. Meski besoknya harus rela bawa-bawa tissu dan air putih sepanjang hari, karna mendadak penyakit Cakra Khan alias pilek dan serak menjamah tubuh gua selama sepekan, gua gak pernah nyesel udah jalan-jalan gabut, naik busway satu ke busway lainnya, turun ke halte dengan random, dan  memperhatikan Jakarta lebih detail. Bersama Jakarta, aku belajar untuk jatuh cinta. :)





















Kamis, 03 Agustus 2017

Si Kecil Paling Tengil

11

huhuhuhu~

Tak tahan menulis sesuatu, seorang mahasiswa dengan berat membuka tombol entri baru di bloggernya, nomor 6 bikin kamu tercengang!








Salah satu alasan gua udah jarang banget ngeblog adalah, karna gua kebanyakan nulis di blog orang, eh kelompok, eh komunitas deh. Gua jadi reporter disebuah Radio kampus, yang menuntut gua menguras otak buat setor 3 tulisan setiap minggunya.

Lah, nulis buat report bisa 3 tulisan, masa ngeblog satu aja gak bisa?

Nah justru itu sahabat netizen yang dirahmati Allah, ide gua larinya kesana semua, diksi demi diksi, kata demi kata gua curahkan kesana semua. 

blog terkasih ini?

hanya dapat sisanya.

Perihnya realita berpoligami. 

Kalau boleh jujur, gua lebih enjoy nulis di blog lah, yakalii, gua bisa bebas cerita dan membelok-belokan suatu cerita. Kalo jadi pewarta, gua mau gak mau harus nulis sok mikir kaya gini, atau ikut seminar international yang full inggris cuma buat nulis kaya gini. Udah tau kan kadar ke Inggrisan gua ini amat rendah. Belom lagi bahan berita yang makin tips saat liburan, mau gak mau harus memutar otak menyerap hal-hal trend untuk dijadikan bahan berita. 

blog terkasih ini?

hanya dapat sisanya.

Perihnya realita berpoligami. 


Tapi yaasudahlah, paling enggak gua masih bisa nulis meski tida di blog sendiri. hehehe

Jadi kita mau bahas apa? ini deh, Awkarin putus sama Oka ya? eh Astaghfirullah udah wafat ya Oka nya?
Maap deh, hari kebangkitan nasional aja apa? atau peran perempuan dalam pembangunan nasional, atau toleransi sebagai salah satu dasar ketahanan NKRI?

idiiih serius banget, kaya mau interview pekerjaan.

Ini aja deh, Gua udah pernah cerita kayanya, kalo gua punya adek cowok. Iya betul, namanya Royyan. Sekarang Royyan telah menapaki jenjang S3.

SD kelas 3


Umur belum genap delapan tahun, dikelas tiga esde ini, Royyan tergolong anak yang tingkat usilnya tinggi. Bukan maenlah, seperti anak-anak pada umumnya. Royyan lahir sebagai aak yang InshaAllah terakhir, meskipun dia suka iseng rikues minta adek lagi, yang kompak dijawab dengan ata melotot dua kakak perempuannya.

YEE ENAK AJA, LU LAKI ATU AJA BERANTEM MULU SAMA KAKANYA. PAKE IDE NAMBAH SATU LAGI, NAMBAHIN MASALAH KELUARGA AJA!!

Untuk mengobati rasa kecewanya, Royyan jadi sering main ke rumah tetangga yang punya bayi buat diajak main. Padahal mah apa mainannya gabuut bet, lempar-lemparan boneka bola doang ampe bosen. 

Anak laki-laki yang diberi nama Abdullah fatih ar-royyan seminggu setelah dilahirkan ini, sekarang tumbuh menjadi anak yang adaa aja idenya. Mulai dari hobi beli layangan tapi sampe rumah disobek dan dibuat ulang, sampe bikin emosi tiap kali pulang main ditanya 'habis dari mana?' yang selalu dijawab dengan "Dari hatimuu..." atau hobi narikin benang jait mamah, dan diedarkan keseluruh sudut rumah. 

Tapi, semenjak ada Royyan, gua jadi jarang banget berantem sama Mia, adek pertama gua. Karna Mia berantemnya sama Royyan sekarang. Ganti tendeman biasaaa

Tau gak si, salah satu moment berantem Mia dan Royyan yang paling gua inget adalah saat kekesalan Royyan memuncak, dia bergegas mengambil mobil-mobilan miliknya yang harus ditarik kebelakang dulu biar bisa jalan sendiri. Setelah dua pasang roda mobil-mobilan kuning itu ditarik mundur, Royyan dengan sengaja menenggelamkan mobil itu ke dalam rambut keriting Mia. Dan bisa ditebak, rambut Mia sukses nyangkut ke jari-jari mobil-mobilan kuning. 

Mia nangis, Royyan kecil tertawa bahagia.

Berkat tragedi itu, rambut Mia terpaksa dipangkas kalo gamau ada mobil-mobilan kuning nyangkut dikepala selamanya.

Gak cuma itu, yang terbaru beberapa hari sebelum Ramadhan kemarin, rumah gua di Pekalongan disatroni  maling. Mungkin faktor terburu-buru karna tiba-tiba tetangga nyamperin pintu rumah yang terbuka dan memanggil nama Mama gua dan merasa tidak berhasil menemukan tempat persembunyian benda-benda berharga, maling tersebut cuma sempat ngambil Play Stasion Royyan yang tergeletak depan TV. Baru sadar kemalingan, saat sore hari Mia pulang ke rumah dan melihat keadaan rumah udah berantakan, lemari acak-acakan, pintu kebuka lebar dan gak ada Mama di rumah. Sempat panik, karna Mama tiba-tiba juga susah dihubungi, akhirnya Mia nelfon gua yang lagi di Jakarta sambil mewek. Ini sekarang nih, kalo diklarifikasi, dia pasti mengelak karna dibilang nangis pas kemalingan kemarin.

Mama baru pulang sekitar ba'da maghrib sama Royyan dari rumah bude. Tanpa banyak ngomong, Mama langsung ngecek barang-barang simpanannya, dan hamdalah aman masih di tempat persembunyian. Royyan disuasana yang genting mengacaukan konsentrasi Mama, dengan berkali-kali menanyakan keberadaan tas sekolahnya,

"Mah tasku dimana yang warna merah itu?"

Mama masih sibuk ngobrol sama tetangga yang sedari tadi meramaikan rumah pun acuh tak acuh, Royyan terus mengulang pertanyaan yang sama.

" Mah tasku mana yang merah gak ada, kan ditaro di ruang tamu waktu itu."

Lelah dengerin Royyan yang berkali-kali bertanya, akhirnya Mama berusaha mencari tas yangterus ditanyakan Royyan. Dan foila, voila, eh gimana sih tulisannya, bimsalabim, kun fayakun, tas sekolah Royyan raib.

Maling gabuuut!!!

Nagapain siih ngambil tas bocah SD?
Mamah panik, bukan apa-apa dua hari lagi Royyan Ulangan akhir semester, nah buku dan LKS yang di dalem tas otomatis ikut kebawa. Mama bingung karna nanti Royyan belajar buat ulangan dari mana? sedangkan Royyan tersenyum jumawa, karna bisa menghindar belajar UAS karna bukunya ilang.  Disinyalir, raibnya tas sekolah Royyan karna digunakannya tersebut untuk mengelabui masyarakat terhadap kasus pencurian PS tersebut. hhmm




Gak cuma itu,
Sejak kejadian disatroni maling, cukup menyisakan trauma bagi keluarga gua. Iya doong, kalau seandainya si maling masih menyisakan kegemasan karna cuma dapet seperangkat PS dan berniat balik lagi gimana? Seminggu berlalu, gua lagi ada kunjungan ke sebuah radio swasta, bulan puasa yang terik menjadi panik, saat siang bolong gua nerima sms dari Mama yang berisi,



Mbak.kamu.pulange.kapan

Mba.iba.rumahe.adamaling.bilang.ayah



Demi apa gua panik, ada maling lagi dateng ke rumah?
Gua langsung berusaha nelfon Mama, Ayah, dan Mia pokoknya gua telfonin semua. Amayzing malingnya balik lagi. Bodohnya gua gak merhatiin gaya penulisan smsnya siang itu. Baru pas sampe kosan lagi dan orang rumah konfirmasi bahwa kepanikan gua disebabkan sms usil dari Royyan belaka. Gua perhatiin, iya juga ya, sejak kapan Mamah ganti spasi menggunakan tanda baca titik?

Ingin mendoakan hal yang buruk rasanya, untung adek sendiri. :)

Ternyata gak cuma gua, Mia juga pernah kena prank dari Royyan, bukan rumah kemalingan tapi, lebih parah. Kondisinya Mia lagi di sekolahan, mengikuti kegiatan belajar mengajar layiknya siswa biasa, saat tiba-tiba menerima sms dari nomor Mamah yang isinya,


Mbak mi mama diculik.



Maha suci Allah dengan segala firman-Nya, kisah apalagi yang berusaha Royyan viralkan?
Mamah gua, ibu-ibu tim gamis garis keras itu, diculik :(

Mungkin karna IQ yang lebih tinggi, dan ketaqwaan yang jauh lebih daripada gua, Mia sama sekali gak panik. Hanya tersenyum masam dan memaklumi keusilan adiknya ini.

Kebayang gak si? Royyan ngetik Mamah diculik depan TV sambil tiduran nonton upin ipin pulang sekolah, nyalain kipas sambil nyengir-nyengir usil, sedangkan Mamah sibuk masak di dapur. Keusilan yang hqq~

Gua nih seusil-usilnya, gak sampe yang bikin berita hoax hingga meresahkan warga. Gua sih berharap Royyan gak punya cita-cita jadi pewarta atau netizen aktif, bisa gempar alam raya nantinya.

Gak cuma berhenti di sms usil, Royyan juga hobi ngusilin sepupunya yang lain, kaya ngelempar fidget spinner sepupu gua yang masih TK ke atas lemari tanpa alasan, ngebuang sendal orang ke tengah kolam renang tanpa alasan, mindahin mainan sepupu gua secara random,  memindahkan ikan dari aquarium ke baskom Mamah, dan hal-hal remeh yang orang lain gak akan kepikiran buat melakukannya.

Gua bersyukur Royyan gak suka main fisik sih, tapi waktu kelas dua SD, Royyan pernah kena kasus di kelas yang membuat Mama gua dipanggil kepala sekolah yang bisa ditebak, hal itu karna keisengan yang tak terbendungnya. Meski usil dan malas belajar, Royyan tetap bangga dengan rangking 11 nya di kelas, dengan 10 teratas diduduki oleh siswa perempuan. Gak cuma itu Royyan termasuk cepat buat ukuran anak kelas 2 SD, karna bisa menamatkan 3 jilid Iqro' dalam kurun waktu 10 bulan. Keren.

Harapan gua ke Royyan untuk saat ini gak muluk-muluk, yaa gimana yaa masih juga kelas 3 SD. Semoga Royyan bisa membatasi dan mengalihkan energi usilnya kepada hal yang lebih bermanfaat, menciptakan PLTU mungkin, Pembangkit Listrik Tenaga Usil.

Indonesia pasti bangga punya Royyan.



Mbak, aku naik onta. keren.












 
 

Senin, 10 Juli 2017

Jatuh Cinta Sendirian?

24



gambar ini dipilih karna pengen aja



Jatuh cinta itu hak bagi semua anak cucu nabi Adam AS. Termasuk jatuh cinta sendirian.









Woelaah..
Da pa neh, sudah lama tidak membuat riuh dunia perblogeran, sekalinya menampakan batang hidung malah membahas perihal cinta. Bukan Adibah banget!!
Yasudahlah, sesungguhnya dari pada tidak menulis sama sekali bukan sahabatku?


Akhir- akhir ini (kurang lebih 4 bulan yang lalu) banyak temen yang curhat ke gue kalau mereka lagi jatuh cinta yangentahlahkayanyasendirian. Gak akhir-akhir ini juga sih sering dari dulu juga, dari jamannya Fir'aun pake celana gaul. Iya, kebanyakan dari mereka, asyik bertanya-tanya dan menebak-nebak perasaan. Tidak berani menyatakan dan enggan menghadapi kenyataan. Katanya sih  takut, gatau deh apa yang ditakutin, padahal katanya jatuh cinta kan menyenangkan. 

Katanya....


Mereka yang berhak jatuh cinta, seharusnya berhak pula mengungkapkannya. Tapi sayang, gak semua berani memperjuangkan hak tersebut. Sebagian dari mereka nyaman dengan perasaannya sendiri.Jatuh cinta sendiri, seneng-seneng sendiri, dan pada akhirnya sakit hati sendiri.

Yaa resiko..
Chicco resiko.

APASEH LAGI SERIUS JUGA!!

Eh, tapi beneran ini serius. Lagi banyak yang curhat sama gue (seperti biasa ) dan mereka lagi jatuh cinta, tapi gatau dan gamau tau perasaan orang yang dicintainya. Ada yang katanya takut bertepuk sebelah tangan, takut bertepuk ame ame belalang kupu kupu,  ada yang merasa CUKUP nyaman dengan melihat senyumnya dari jauh, mendengar renyah derai tawanya meski bukan dia penyebabnya, mendengar kabar baiknya meski harus lewat jutaan daun, embun dan desir pasir dipadang tandus sebagai perantaranya. Kalau sudah begini, siapa yang berani bilang jatuh cinta itu rumit?

HAHAHA
INI KENAPA SIH
GUE SEKARANG KALO NULIS BELOK MULU
GA PERNAH FOKUS


Balik lagi ke masalah yang kerap terjadi di kota-kota besar ini.

Jatuh Cinta Sendirian.
Abis katanya kalo jatuh cinta sekelas ribet, kebanyakan. belom lagi kalo dikelas ada guru.

Gua sendiri termasuk tim yang setuju gak setuju dengan konsep jatuh cinta sendirian. Disisi lain gua mending jatuh cinta sendirian kalo dengan dinyatakan perasaan cinta tersebut malah menggiring kepada kemungkaran.

ALLAHUMMA SHALLIALAA MUHAMMAD #AdibahSholehah2017

Eh iya lho bener, ya gak siih..
Kalau jatuhnya setelah perasaan cinta itu diungkapkan dan malah menimbulkan pecah kongsi antara Korut dan Korsel mendingan jangan. Memfosil-memfosil dah tuh perasaan bodoamat, demi keselamatan warga negara dan anak cucu nabi Muhammad nih.

Kecuali,
Usai diungkapkannya perasaan tersebut muncul niatan niatan baik lainnya, maka menurut gua sah-sah aja. Bukankah cinta adalah suatu hal yang indah?

Jatuh Cinta bukan soal UN yang jadi dokumen rahasia negara, dari pada ditahan-tahan dan bikin panas dingin berbulan-bulan, lebih baik utarakan.
Jatuh Cinta juga bukan aib teman yang harus disembunyikan, dari pada malah kepikiran bikin males makan dan kelaparan, lebih baik nyatakan.

Gila keren ya gue ternyata, lumayaaan..

Jadi sampe mana tadi lupa..
Ooh iya, tapi bener ga sih apa gue doang yang ngerasa kalo yang paling sering jatuh cinta sendirian tuh cewek. Ya gak menutup kemungkinan cowok juga bisa jatuh cinta sendirian sih, tapi cewek lebih banyak.

Biasanya hal ini disebabkan karena stereotipe masyarakat yang sangat kuat, yang menganggap cewek itu tugasnya dikejar, bukan mengejar. Padahal sih menurut gue sah-sah aja cewek menyatakan perasaan.

Emangnya napa? bukankah jatuh cinta hak seluruh lapisan masyarakat?

Kalo cowok yang memilih jatuh cinta sendirian, hasil riset gua menunjukan bahwa 11 dari 10 cowok memilih hal ini karena minder dan takut ditolak. Yeuu padahal kan nyatain perasaan doang, bukan mau ngajuin judul skripsi, ngapa pada takut bet takut ditolak dah?

Rata-rata mereka memilih jatuh cinta sendirian karena:
1. Minder
2. Udah punya cowok (178127357830)
3. Takut gak berbalas
4. Malu anjir diceng-cengin anak tongkrongan kalo kaga berbalas
5. Takut ah, ntar kalo gua bilang dia malah ilfeel lagi.
6. Saingan banyak, percuma ini mah
7. Ingin memantaskan diri, menjadi seseorang yang pantas berada satu shaf di depannya (re: Supir angkot)
8. Nomer tujuh apaan dih bullshit
9. Nomer delapan unfaedah banget dih apus ah
10.  Jumlah malaikat yang wajib diketahui oleh orang Islam.


Eh tapi bener gak sih, orang yang jatuh cinta sendirian tuh apa-apa serba pake prasangka?
Mereka yang jatuh sendirian akan cenderung sensitif terhadap aktivitas seseorang yang dicintai, gak jarang para pe-jatuh cinta sendirian ini sampai bikin second account buat memantau activity doi secara diam-diam, perubahan status sedikit langsung berprasangka yang tidak-tidak, snapgramnya diseen doang langsung berprasangka kalau dia sayang, dia ngelove postingan di ig ajaa senengnya udah kaya perasaannya dilove balik. Jangankan postingan dilove deh, dia online wasap aja langsung berasa jodoh.

Yeuuu dinamo tamiya!!


Kalau sudah menimbulkan hal-hal seperti ini sih, lebih baik perasaan itu dinyatakan, inget yaa nyatakan aja, berbalas syukur diread doang yaudah end chat. Kan enak tuh lega kalau semuanya terang benderang, ga akan ada lagi prasangka-prasangka buruk, malam-malam penuh penantian berharap dia merasakan hal yang sama, sajak-sajak peluruh senja yang tak pernah sampai pada empunya, no typing-typing doang club pada setiap social medianya.


Sapa tau nih ya sapa tau, dia juga punya perasaan yang sama tapi sama-sama memendam juga. yang satu mendem satunya lagi mendem, eh dua-duanya kekubur.

Dido'ain

Meninggal beneran, jasad beserta perasaannya.

Jatuh cinta itu indah, mari tuntaskan dengan cara yang indah pula


Itu siih kalo menurut aku ya,
Kalo mas Anang sih terserah, apalagi mbak Agnes yang katanya beneran monica
Kalo menurut kamu?


Mangnya keseleo apa pake menurut?



Rabu, 01 Maret 2017

Suka Duka Jadi Pewarta

26

Ngeblog sekali sebulan amat gua kaya bayar listrik.
Maafin ya, sedang mendalami dunia percak-cakan dan tebak-tebakan nih, agar supaya menjadi profesional.

Enggak ngeblog bukan berarti gua jadi gak produktif. asek. Gue tetep nulis tiap minggunya, nulis berita. Kebagian divisi reporter di RDK, mewajibkan gue buat nyetor 3 berita setiap Minggunya. Sebulan sudah jadi reporter, lumayan lah berasa suka dukanya. Dapet dateline 19.00 WI Bagian Ciputat pada setiap Minggunya, lumayan uga menciptakan pribadi gua yang udah gila jadi makin gila. Terimakasih redakturque




Udah nyampe kampus dari jam delapan pagi, ngaduk-ngaduk socmed dan official account dari Universitas, Fakultas, Jurusan, UKM, sampai Komunitas di UIN, muter-muter UIN kaya orang ilang. Dioper sana-sini sama narasumber, berasa barang haram gue buat oper-operan. Sok asik sama orang buat ngulik-ngulik berita, nge dm-dm in instagram orang, minta kontak abang-abang atau mbak-mbak buat jadi narasumber. Dari yang balesnya GeCe, sampai yang diread doang. Alhamdulillah sudah semua. Sejujurnya benarkah kehidupan pewarta sekeras ini? :')
Mau nangys

Jadi reporter radio aja gue udah berasa banget susah payahnya, padahal jangkauannya masih radio kampus lho. Apa karna gue nyari berita disaat kampus lagi libur ya? jadi minim kegiatan. Gak kebayang, kalau cita-cita gue sebagai wartawan benar terwujud. Bisa makin edyan gua. Tapi ngapapah, ini masih awal. Awal yang getir.

Untuk ke edyanan yang haQQ.

Pernah pada setiap Jum'at ( karena gua kebagian jadwal cari berita hari Jum'at ) pukul delapan pagi gua udah standby di studio RDK, bertapa deket stop kontak mengais-ngais serpihan informasi kegiatan mahasiswa di socmed. Satu demi satu akun instagram organisasi di UIN gue follow. Bedebah memang, angka following gua meningkat gara-gara jadi reporter, angka followers mah boro-boro. :''

Sampai jam 12 siang, tak jua kutemukan adanya serpih-serpih kegiatan yang bisa daku beritakan. Berbekal energi pecel gorengan goceng khas ibu-ibu tukang pecel UIN, gua muterin UIN, cari mahasiswa. Ada orang ngumpul gua samperin, ada yang pake kerudung samaan gua samperin, siapa tau dalam rangka mengikuti suatu event kan kerudungnya samaan. Padahal mah gak sengaja. Ada OB gue tanyain, ada satpam gua tanyain, masuk-masuk kantor TU, nyebelahin mahasiswa yang lagi Wifi-an gratis. Segala upaya.

Jadi pewarta, mau gamau membangun kepribadian gua menjadi lebih kepo. Entah kepo, entah lebih layak disebut suudzon. Tapi jadi pewarta gak melulu susah kok.

Yhaaa







SUSAHBANGETLAHANJER!!


Gak deh, ada senengnya. Senengnya jadi pewarta itu, gue jadi banyak kenalan baru. Dari anak Himpunan Mahasiswa, UKM, komunitas, satpam, sampai staff TU masing-masing gedung. Mantap bukan, social climbing yang menakjubkan!. Gak jarang karena harus mencari narasumber masing-masing dua untuk setiap berita, ngebuat kotak handphone dan riwayat chat gua di penuhi oleh orang-orang asing. Kalo lagi iseng nge-scroll chat tuh bawaannya istighfar aja," Astaghfirullah, siapa ini coba, kenapa gue bisa chat sama dia. Dosa apa gue Ya Allah," atau sesekali, " Ya Allah, cakep amat, leh uga nih save deh nomernya."

Yha lumayan kan ya, kalo papasan dijalan ada yang disenyumin karena pernah kenal lewat wawancara. ehe

Yhaa begitulah,

Itu salah satu point penting jadi pewarta, gue selalu punya kesempatan liat spesies abang-abang gemas di UIN. Dari yang gondrong ganteng, gondrong manis, cepak ganteng, cepak manis, berkacamata ganteng, berkumis tipis, berjanggut merah, abang-abang berpeci yang sholeh sampai yang botak menawan, pewarta pernah wawancara semua.

HAHAHAHA

Enak kan jadi pewarta?

Tapi ini siriusly, gua sendiri heran. Tanpa bermaksud genit mewawancarai abang-abang gantenk sebagai narasumber, tapi emang rejekinya gitu. Kadang gua pengen gitukan dapet narasumber cewek biar lebih enak ngobrolnya, tapi Allah menakdirkan lain, yang datang justru abang-abang, gantenk lagi.

Yhaa walaupun gak jarang dapet yang demek juga, tapi teteup kuantitasnya jauh lebih tinggi ketemu abang-abang gantenknya. Ngapapalah, demi kelancaran penulisan sebuah berita. Rejeki pewarta sholehah.. #AdibahSholehah2017

Jadi pewarta menuntut gue mau gamau harus nulis. HARUS WAJIB FARDHU A'IN!!
Tak peduli mau lagi gak mood nulis, lagi mager, lagi gak ada ide kek. Tetep harus nulis, dari pada digorok redaktur. Seperti itu. Berita harus sudah nangkring dikotak masuk e-mail redaktur pukul 19.00 WIB, kalo gamau di PC ditanya-tanyain apa kabar beritanya?.
Belom lagi kalo kena revisi, Ya Allah...

mau nangyz


Tapi, sesungguhnya dibalik segala kritik dan saran redaktur dan pemred Que. Gua sayang dan mengasihi segala kritik dan revisian mereka. Berasa punya editor pribadi, seenggaknya ada yang merhatiin tulisan gue, ada yang peduli dengan segala ke typoan ini, dengan segala kerumitan pemilihan kata ini, dengan segala ke-begoan gue dalam dunia tulis menulis berita. :')


















Senin, 30 Januari 2017

Postingan Awal Tahun

26


Inhale Exhale,
Fuiiih.. udah 2017. 
Udah mulai gak salah-salah lagi nulis tanggal di ujung atas kertas kan? yakalee udah sebulan.
Seperti biasah gue kalo ngucapin apa-apa selalu telat, termasuk tahun baru. 

Selamat Tahun Baru, jangan lupa beli kalender baru. :)

Udah telat, ngucapinnya gitu doang lagi.
Tulisan ini dibuat sejak awal tahun, sengaja diulur publishnya, biar kaya perasaan aku yang lagi ditarik ulur. Sekian

Gak deng. 
Sengaja diulur publishnya nunggu moment yang ciamik terlewati, biar sekalian. 
Biar gak kaya postingan Ta'aruf yang ditulis dari Oktober tapi gak kelar-kelar anjeeer, udah setahun!!
Padahal mah apa, gak sempet. Diri sendiri aja gak keurus, apalagi blog.
Memang kadang realita semenyedihkan ini.
4 bulan jadi Mahasiswa dan 5 kali jadi panitia acara. Itu berarti ANJER TERNYATA GUE MARUK JUGA. Ada kegiatan apa buru-buru ikut, giliran dilakuin ngeluh-ngeluh di socmed.
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 2). 

Tahun 2016 kemaren banyak banget hal-hal baru yang seharusnya bisa ditulis satu persatu dan menjadikan list postingan di tahun 2016 ini lebih penuh. Tapi apalah daya tak ada upaya. Di penghujung 2016 gue memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu Calon Anggota baru ( CAANG) pada sebuah Lembaga Semi Otonom mahasiwa di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta yang bergerak dibidang media, yaitu Radio Komunikasi dan Dakwah atau biasa dikenal RDK FM. 

Disini pada akhirnya gue dipertemukan dengan keluarga baru. Berkat pahit asamnya proses seleksi dan pendidikan yang kami lalui ber-yangawalnyaduapuluhsembilan ini. Doktrin "Kita ini satu tubuh" yang berkali-kali digemakan, sukses ngebikin gue menitihkan air mata saat kehilangan salah satu diantara mereka. 

Remeh banget padahal Ya Allah. Temen-temen SMA gue pasti bakal heran, gue yang paling jarang nangis ini bisa-bisanya menitihkan air mata demi teman baru yang kenal aja baru sebulan ini. Tapi seandainya mereka tahu kaya apa si temen-temen yang gue tangisin ini, mereka gak akan heran air mata gue yang mahal ini kenapa bisa jatuh.

Galak-galak gini Adibah orangnya setia kawan banget soalnya. Teman itu nomer 4, Setelah nomor satu Bismillah, yang kedua Allah, dan yang ketiga Keluarga. Kami ber-26 yang pada akhirnya melewati berbagai jenis magang dan melalui banyak rintangan dan siap untuk dilantik menjadi Anggota baru yang sesungguhnya. Sampai akhirnya tanggal 15 Januari silam setelah melalui manis pahitnya bangun-robohin tenda, mentas dari kubangan pindah ke empang, lelehan air mata dan renyahnya gelak tawa, kami ber-26 finally dilantik jadi Anggota Muda (ANGMUD). Meski belum resmi karena Musyawarah Anggota baru akan dilaksanakan pertengahan Februari nanti, kebahagiaan kami pun sudah tak terbendung, akhirnya apa yang kami perjuangkan bersama selama tiga bulan usai sudah. Maaf, belum usai maksud gue, baru saja dimulai.

Dramatis abis,

Sampai postingan ini di publish, kami ber-26 sedang gencar-gencarnya ngurusin BANSOS ALIANSI ( Alirkan Kasih Lewat Frekuensi ). Acara ini yang bikin gue jadi sering bolak-balik CFD, ngamen sana-sini, dagang ini itu, demi meraup pundi-pundi rupiah yang mampu melancarkan acara BANSOS ALIANSI tersebut diatas. Capek, jelas. Nyadan yang menghabiskan banyak waktu dan usaha, sampai-sampai moment tahun baru kami tersita.

Tidak seperti remaja pada umumnya, kami menghabiskan 2016 dengan menjual roti yang di impor dari Bandung di sekitaran bundaran HI. Suasana HI yang ramai bu-ibu sosialita dan keluarga cemara serta bapak-bapak berseragam dari polisi, satpam, satpol PP jadi medan jualan yang potensial bagi kami. Dengan sedikit memaksa kami menawarkan dagangan kepada para ibu-ibu sosialita, keluarga cemara dan bapak berseragam yang telah disebutkan di atas. Bukan suatu hal yang sia-sia, berangkat ke HI sejak pagi, muter-muter gak jelas, numpang makan ke rumah salah satu teman,sampai pada akhirnya kami berhasil menjual 75 potong roti di detik-detik terakhir 2016. Rupiah yang kami dapatkan memang tidak seberapa, tapi ada nilai yang kami dapatkan tanpa sadar dari malam itu selain rupiah dan rasa lelah.

Nilai itu adalah,







Gak ada ternyata.
CAPEK DOANG ANJU!!

Asli capek, pulang ke rumah masing-masing dengan busway, angkot, dan kereta terakhir membuat kami misuh-misuh sampai pagi. Tapi seneng sih. Akhirnya nemu temen yang mau diajak susah bareng. Tinggal nyari yang mau diajak berumah tangga bareng.

Eh, gimana?







Mengakhiri 2016 dengan mencari dana, kamipun memulai awal 2017 dengan hal yang sama, mulai dari jual suara di lampu merah, jual aqua di CFD, jual gelang dan lain sebagainya. Malam-malam dingin yang kita habiskan bersama ditemani nasi goreng khas Brebes, Kopi abang-abang, segelas plastik extra joss, diselingi lagu-lagu lama, guyonan receh, terciptanya joke - joke internal, pergunjingan yang menyenangkan akan menjadi kenangan-kenangan kecil yang tidak mudah kami lupakan.

Basic-basic anak radio tak terbendung membuat setiap pertemuan kami tidak luput dari obrolan-obrolan panjang. Alhamdulillah, bersama mereka bakat ghibah gue makin terasah. :) Ini kalo meetup lagi, temen-temen blogger pasti langsung bisa menilai, seberapa jauh bakat ghibah Adibah menjadi berkembang pesat. Maapin
Memang kadang realita semenyedihkan ini (part 3)

Disini gue ketemu keluarga baru.
Walaupun kalimat di atas terdengar agak bulsyid, tapi jujur gue sayang. Sayang-sayang malez sih sebenernya, karna seberapa menyenangkan mereka tetep banyak nyebelinnya. Suatu saat gue ceritain tabiat, perangai, personalitas dan tindak tanduk masing-masing dari mereka. Agar sahabat netizen tahu, betapa beruntungnya Adibah dipertemukan dengan mereka. :)

Sejujurnya, banyak yang mau gue ceritain. Tapi karna nulisnya pedot-pedotan jadi lupa pan mau nulis apa aja.  Yawdah la yaa, ntar kalo inget agar supaya dijadikan postingan baru biar menuh-menuhin list. Ehe

Sesungguhnya, di bawah ini hanya segelintir dari dokumentasi kebersamaan kami. Masih banyak foto-foto aib yang tidak baik untuk konsumsi publik.